Tuesday, April 30, 2013

penyakit pada tanaman kakao

Pada perkebunan kakao skala besar atau perkebunan rakyat, pernah terjadi serangan penyakit tanaman. Pada seluruh bagian tanaman kakao mulai dari akar, batang, daun , buah dapat diserang penyakit. Usaha penanganan penyakit yang menyerang kakao tidak hanya jenis penyakitnya yang perlu diperhatikan, tetapi juga lingkungan serta tanaman inang alternatifnya juga harus diperhatikan. Salah satu factor lingkungan yang paling berpengaruh adalah curah hujan, kelembaban, dan suhu. Apabila tanaman mengalami kerusakan akibat penyakit, tindakan yang dilakukan adalah melakukan diagnosis. Tindakan ini dapat digunakan sebagai dasar pertimbangan dalam mengambil keputusan untuk melakukan pengendalian. Apabila ada serangan suatu penyakit yang kurang merugikan belum perlu dikendalika, tetapi tetap perlu diperhatikan, karena suatu serangan penyakit yang kurang merugikan ini daya merusaknya bias meningkat jika mendapat inang yang rentan dan kondisi lingkungan yang mendukung.
            Penanganan serangan penyakit bisa dilakukan dengan memadukan beberapa teknik yang sesuai. Tujuannya untuk mengurangi kegagalan dan menjaga kelestarian lingkungan. Berdasarkan diagnosis yang tepat, pengetahuan epidemiologi (laju pertumbuhan penyakit), dan kerusakan yang ditimbulkan oleh penyakit, maka dapat disusun suatu strategi penanganan yang efektif dan efisien. Berikut akan dibahas beberapa penyakit yang menyeang tanaman kakao:
1.      Penyakit busuk buah (Phytophthora palmivora Butl. [Butl.])
a.      Diagnosis (cara pengamatan)
Pengamatan penyakit ini bisa dilakukan di lapangan dengan melihat gejala serangan khusus. Penyakit ini menyerang buah kakao yang masih muda sampai dewasa, tetapi lebih banyak menyerang tanaman dewasa. Buah yang terinfeksi menunjukkan gejala terjadinya pembusukan disertai bercak coklat kehitaman dengan batas yang tegas. Serangan biasa dimulai dari ujung atau pangkal buah. Perkembangan berrcak coklat ini sangat cepat, pada kondisi lembab pada permukaan buah akan muncul serbuk berwarna putih, serbuk ini adalah spora P. palmivora yang bercampur dengan jamur sekunder.
b.      Penyebaran penyakit
Jamur P. palmivora menyebar dari satu buah ke buah lain melalui beberap cara, terutama melalui percikan air hujan, hubungan langsung antara buah sakit dengan buah sehat, dan melalui perantara binatang. Percikan air hujan dapat menyebarkan spora jamur P. palmivora dari buah sakit ke buah sehat atau spora yang berasal dari tanah ke buah. Binatang dapat menyebarkan penyakit ke tempat yang lebih tinggi dan lebih jauh, karena binatang dapat berpindah tempat dengan mudah, seperti semut, tikus, tupai, bekicot.
c.       Kerusakan
Serangan P. palmivora pada buah muda akan menyebabkan busuk. Serangan penyakit hanya berlangsung beberapa hari hingga menyebabkan buah rusak dan tidak bisa dipanen. Serangan pada buah dewasa menimbulkan kerusakan pada biji, tetapi masih bisa dipanen, namun kualitasnya menurun.
d.      Pengendalian
Saat ini di Indonesia penyakit busuk buah belum bisa dikendalikan karena ditanam di iklim basah dan varietas yang rentan. Dengan penanaman varietas tahan di lingkungan kering bisa mengurangi masalah serangan penyakit, serangan penyakit juga bisa dikendalikan dengan cara sanitasi (memetik buah busuk yang dilakukan bersamaan saat pemangkasan atau panen) dan fungsida racun kontak.
      Pemanfaatan jamur Trichoderma spp. Sebagai agen hayati diketahui dapat menghambat perkembangan P. palmivora dan penyakit busuk buah. Cara pengaplikasi jamur ini adalah dengan menyemprotkan ke buah kakao sehat sebagai tindakan preventative .
2.      Penyakit kanker batang (Phytophthora palmivora  Butl. [Butl.])
a.      Diagnosis (cara pengamatan)
Penyakit ini dapat dilakukan dengan melihat gejala khusus pada kulit batang. Kulit batang tampak adanya warna gelap atau kehitaman dan berlekuk. Pada bercak hitam ini sering ditemukan cairan kemerahan yang lama kelamaan menjadi seperti lapisan karat.
b.      Penyebaran
Penyebaran penyakit kanker batang berkaitan erat dengan penyakit busuk buah. Buah kakao yang busuk jika tidak dipetik bisa menyebar ke tangkai. Dari tangkai buah inilah pathogen menjalar menjalar dan menginfeksi batang dan akhirnya terjadi kanker batang. Penyakit ini mudah menyebar pada kebun yang lembab dengan curah hujan  tinggi atau daerah yang sering tergenang air.
c.       Kerusakan
Serangan penyakit kanker batang akan mengakibatkan jaringan kayu rusak, batang menjadikan busuk dan berlendir. Jika dilihat dari luar gejala bercak yang tampak berukuran kecil, tetapi apabila dikupas kerusakan jaringan kayu meluas sampai ke batang dalam.
d.      Pengendalian
Pada batang yang terserang dapat dilakukan pengendalian dengan megupas kulit batang atau kulit cabang yang membusuk sampai batas yang sehat. Lalu diolesi dengan bahan penutup luka seperti fungisida tembaga. Apabila batang tanaman yang terserang kerusakannya sampai menegelilingi batang, dan menunjukkan gejala layu daun sebaiknya tanaman tersebut dipotong atau dibongkar.
3.      Penyakit antraknose-Colletotricum (Colletotricum gloeosporioides Penz. Sacc.)
a.      Diagnosis (cara pengamatan)
Dapat dilakukan dengan melihat gejala khusus pada bagian tanaman yang terserang. Serangan ringan pada daun muda terlihat gejala bintik-bintik nekrosis berwarna coklat. Setelah daun berkembang menjadi bercak berlubang berwarna kuning. Dan pada daun yang lebih tua bintik nekrosis berkembang menjadi bercak nekrosis yang beraturan. Daun yang terkena serangan akan rontok sehingga menyebabkan kegundulan. Buah-buah muda lebih rentan terhadap infeksi jamur daripada buah dewasa, buah yang terserang menimbulkan kelayuan dengan bintik-bintik coklat dan berkembang jadi bercak coklat yang berlekuk (antraknose). Akhirnya mongering. Buah dewasa yang terserang tidak layu, hanya mengalami antraknose dan mengerut dibagian ujung.
b.      Penyebaran
Pada keadaan lembab, daun, buah yang terinfeksi banyak menghasilkan konidia. Konidia dapat tersebar air hujan, angin, serangga. Disamping itu konidia juga dipengaruhi suhu. Dikebun, tanaman kakao yang mempunyai naungan kurang baik atau tanpa naungan mudah mangalami gangguan antraknose karena suhu tinggi. Konidia yang dihasilkan oleh daun maupun buah tetap memiliki daya hidup yang cukup tinggi. Meskipun terkena sinar matahari secara langsung, konidia tidak segera kehilangan daya hidupnya sampai beberapa hari dan masih tetap infektif. Hal ini berarti dilapangan selalu tersedia inoculum.
c.       Kerusakan
Kerusakan akibat C. gloeosporoides bergantung pada besarnya  intensitas penyakit. Tidak semua kerusakan menimbulkan kerugian. Seperti kerusakan kecil pada daun berlubang dapat diabaikan. Infeksi pada buah muda bisa menurunkan produksi kakao, karena buah tersebut kakan layu dan mengering. Serangan pada buah dewasa hanya sedikit menimbulkan kerusakan.
      Jika kondisi cocok, serangan penyakit menyebabkan hampir seluruh daun muda gugur. Pada daun tua gugur, duan muda sebagai penggantinya sudah habis, menyebabkan tanamna tidak  mampu memproduksi dan tumbuh secara vegetative serta generative. Apabila serangan berlanjut maka tanaman akan mati.
d.      Pengendalian
Setelah mengetahui factor factor yang mempengaruhi perkembangan penyakit sebiknya disusun cara pengendalian yang memadukan teknik pengendalian kultur teknis, mekanis, dan kimiawi. Cara tersebut bebrbeda tergantung intensitas serangan
Intensitas serangan
Cara pengendalian
Sangat ringan (<5%)
Perlu diwaspasdai
Ringan (5-15%)
Pupuk+naungan+sanitasi
Sedang (16-35%)
Pupuk+naungan+sanitasi+fungisida
Berat  (36-75%)
Pupuk+naungan+sanitasi+fungisida
Sangat berat (>75%)
Eradikasi
-          Pupuk ditambahkan sesuai umur tanman, kondisi tanah, dan cara bercocok tanam. Untuk serangan berat pemupukan lewat daun.
-          Naungan dengan pemberian pohon peneduh yag disesuaikan dengan kondisi tanaman dan lingkungan.
-          Sanitasi adalah pemangkasan ranting sakit dan pemetikan buah –buah sakit, kemudian dipendam dalam tanah
-          Eradikasi adalah pembongkaran tanaman sakit.
-          Fungisida adalah penyemprotan fungsida preventif yang dilaksanakan pada saat pembentukan daun – daun baru.
4.      Penyakit vascular streak dieback (Oncobadium theobrome Talbot & Keane)
a.      Diagnosis (cara pengamatan)
Dapat dilakukan dengan melihat gejala-gejala khusus. Tanaman yang terserang menunjukkan gejala meranting. Gejala khusus adalah daun menguning dengan bercak-bercak berwarna hijau dan akhirnya gugur. Pada bekas duduk daun bila disayat terlihat 3 buah noktah berwarna coklat kehitaman. Bila ranting dibelah membujur terlihat garis-garis coklat pada jaringan. Kadang-kadang daun menunjukkan gejala nekrose di antara tulang-tulang daun seperti kekurangan kalsium. Apabila gejala seperti diatas masih kurang jelas, diagnosis dapat dilakukan dengan menyetek ranting dicurigai. Jika bekas potongan daun, bekas duduk daun atau bekas potongan ranting yang dicurigai muncul benang berwarna putih, maka dapat dipastika penyebabnya adalah jamur O. theobromae.
b.      Penyebaran
Penyakit ini menular dari tanaman satu ke tanaman lain melalui spora yang diterbangkan oleh angin. Spora-spora ini sangat peka terkena cahaya matahari. Spora yang jatuh pada daun muda akan segera berkembah apabila ada air dan akan masuk dan berkembang ke dalam jaringa xylem, setelah 3-5 bulan muncul gejala daun menguning dengan bercak hijau. Daun-daun tersebut mudah rontok, sehingga meyebabkan ranting mati. Dalam kondisi ini jamur masih bisa tetap tumbuh dalam jaringan tanaman dan menimbulkan kerusakan yang lebih besar. Penyakit ini mudah muncul tersebar di daerah beriklim basah dengan curah hujan yang merata sepanjang tahun dibandingkan dengan curah hujan yang beriklim kering.
c.       Kerusakan
Kerusakan akibat penyakit VSD tergatung pada ketahanan tanaman. Pada tanaman yang rentan, penyakit ini dapat menimbulkan kerusakan yang cukup berat. Jamur hidup di jaringan xilemdan menganggu pengangkutan air mineral ke daun, sehingga daun mati, apabila serangan berlanjut maka akan menurunkan produksi kakao.
Pada tanaman yang toleran, tidak akan menimbulkan kerusakan yang berarti. Meskipun ranting telah terinfeksi namun masih mampu tumbuh baik dengan membentuk daun daun baru. Dan jika jamur O. theobromae pada bibit dapat menyebabkan kematian.
d.      Pengendalian
Penyakit VSD hanya menimbulkan kerusakan berat pada tanaman rentan di daerah basah. Pada daerah dilakukan pemangkasan sanitasi dua minggu sekali dan di daerah kering satu sampai tiga bulan sekali.
Intensitas
Cara pengendalian
kering
Cara pengendalian
basah
Ringan
Pemangkasan sanitasi 8 minggu sekali
Pangkasan sanitasi 4 minggu sekali
Sedang
Pangkasan sanitasi 4 minggu sekali
Pangkasan sanitasi 2 minggu sekali
Berat
eradikasi
eradikasi
5.      Penyakit jamur Upas (Corticium salmonicolor B. ET br)
a.      Diagnosis
Dapat dilihat dari gejala terutamapada percabangan yang sudah berkayu. Serangan jamur upas terdiri dari beberapa tungkatan sbb :
-          Tingkat sarang laba-laba
Serangan muls-mula mirip jamur seperti perak, mirip dengan sarang laba-laba
-          Tingkat bongkol
Jamur berbentuk kumpulan-kumpulan hifa
-          Tingkat corticium
Jamur membentuk kerak berwarna merah jambu, kulit cabang dibawah kerak tersebut sudah membusuk
-          Tingkat nekator
Jamur akan dapat berkembang membentuk piknidia berwarna merah tua dan terdapat pada sisi yang lebih kering.
b.      Penyebaran
Penyakit ini disebabkan oleh jamur Corticium salmonicolor B. et Br. Penyebarannya disebabkan oleh angin. Jamur ini bersifat polifag antara lain karet, kopi, the, kina, apel, dan lengkeng. Kebun yang memiliki kelembaban tinggi karena pemangkasan tanaman kakao dan tanaman pelindung yang terlambat sangat membantu perkembanagn penyakit. Apabila musim hujan terus-menerus akan mempercepat perluasan jamur ini.
c.       Kerusakan
Kerusakan yang parah dapat mengakibatkan matinya ranting dan bahkan seluruh tanaman. Di Indonesia penyakit ini terjadi terutama di daerah basah seperti Sumatra utara dan jawa barat.
d.      Pengendalian
-          Saat musim hujan, kelembaban kebun dijaga agar tidak terlalu tinggi dengan melakukan pemangkasan
-          Pemangkasan cabang tanaman yang terserang jamur ditambah 20 cm dibawahnya. Kemudian cabang yang sakit itu dibakar atau dipendam
-          Apabila gejala nya masih tingkat sarang laba-laba dan cabang yang terserang masih hidup bisa dipertahankan dengan cara membersihkan miselium yang menempel kemudian diolesi fungisida
-          Musnahkan sumber infeksi yang terdapat pada tanaman lain.
6.      Penyakit akar merah
a.      Diagnosis
Jenis penyakit akar yang sering dijumpai pada tanaman kakao antara lain penyakit akar merah, coklat dan putih. Gejalanya tampak sama. Mula-mula daun tampak menguning, layi dan akhirnya gugur dan diikuit kematian. Untuk mengetahui patogennya dilakukan pemeriksaan pada leher akar dan perakaran tanaman.
      Penyakit akar merah terdapat lapisan jamur berwarna merah atau coklat tua. Keadaan akar menjadi busuk, basah, lunak, berair.
b.      Penyebaran
Penyakit akar merah disebabkan oleh jamur Ganoderma pseudofereum . kelembaban tanah sangat berpengaruh terhadap perkembangan jamur. Penularan terjadi dengan kontak akar sakit dengan yang sehat.
c.       Kerusakan
Tanaman yang menunjukkan gejala sakit biasanya telah terserang parah sehingga tidak bisa ditolong lagi. Sebenarnya serangan jamur akar ini tidak boleh dianggap ringan, walaupun perkembangannya lambat tetapi bisa mematikan tanaman. Disamping menyerang kakao, jamur akar juga menyerang tanaman peneduh dan tanaman disekeliling kakao.
d.      Pengendalian
-          Tanaman yang sudah mati akibat serangan jamur harus dibongkar beserta akarnya sampai bersih.
-          Untuk mencegah penyebaran ke tanaman lain, perlu dibuat parit sedalam 80 cm pada daerah di luar tanaman mati. Hal ini untuk mencegah penularan jamur akar terutama yang terjadi kontak akar atau perantasa rhizomorf.
-          Tanaman yang berada disekitar tanaman mati perlu dilakuka pemeriksaan akar tunggangnya, agar penyakit akar bisa dicegah.
7.      Penyakit Akar Coklat
a.      Diagnosis
Penyakit akar coklat terdapat benang-benang jamur berlendir yang mengikat erat butir tanah.
b.      Penyebaran
Penyakit akar coklat disebabkan oleh jamur Phellinus lamaoensis , penularan terjadi dengan kontak langsung antara akar sakit dan sehat. Jamur menyerang akar tunggang dan selanjutnya menyerang ke akar – akar besar. Jika seluruh permukaan akar telah ditutupi jamur ini maka aka menyebabkan kematian pada tanaman.
c.       Kerusakan
Penyakit ini ditemui di kebun-kebun bekas yang terserang penyakit dan pembongkaran akar yang tidak bersih. Tanaman yang terserang penyakit ini awalnya ringan, namun jika diabaikan lama-kelamaan akan menjadi parah, sehingga menyebabkan tanaman mati.
d.      Pengendalian
Untuk pengendaliannya sama dengan penyakit akar merah, yaitu :
-          Tanaman yang sudah mati akibat serangan jamur harus dibongkar beserta akarnya sampai bersih.
-          Untuk mencegah penyebaran ke tanaman lain, perlu dibuat parit sedalam 80 cm pada daerah di luar tanaman mati. Hal ini untuk mencegah penularan jamur akar terutama yang terjadi kontak akar atau perantasa rhizomorf.
-          Tanaman yang berada disekitar tanaman mati perlu dilakuka pemeriksaan akar tunggangnya, agar penyakit akar bisa dicegah.
8.      Penyakit akar putih
a.      Diagnosis
Penyakit akar putih terdapat benang-benang putih yang bercabang melekat pada permukaan akar.
b.      Penyebaran
Penyakit akar putih disebabkan jamur Leptoporus lignosus , jamur ini bertahan pada sisa-sisa akar dan tanaman kayu. Penularan melalui rhizomorf yang menjdi perantara dan dapat menjalar bebas dalam tanah. Infeksi jamur ini terutama terjadi pada kebun muda.
c.       Kerusakan
Kerusakannya kurang mendapat perhatian yang serius, karena masalah penyakit ini sudah ada sejak lama dan perkembangannya lambat. Padahal kerusakan yang diakibatkan sangat fatal. Kerusakannya sama dengan penyakit akar merah, dan penyakit akar coklat, yaitu jika tanaman yang menunjukkan gejala sakit biasanya telah terserang parah sehingga tidak bisa ditolong lagi. Karena penyakit ini diabaikan, namun lama-kelamaan akan berkembang dan bisa membuat tanaman kakao mati.
d.      Pengendalian
Pengendaliannya sama dengan penyakit akar merah dan penyakit akar coklat, yaitu :
-          Tanaman yang sudah mati akibat serangan jamur harus dibongkar beserta akarnya sampai bersih.
-          Untuk mencegah penyebaran ke tanaman lain, perlu dibuat parit sedalam 80 cm pada daerah di luar tanaman mati. Hal ini untuk mencegah penularan jamur akar terutama yang terjadi kontak akar atau perantasa rhizomorf.
-          Tanaman yang berada disekitar tanaman mati perlu dilakuka pemeriksaan akar tunggangnya, agar penyakit akar bisa dicegah.

Sunday, March 24, 2013

contoh Jamur yang menguntungkan dan merugikan

Macam-Macam Jamur yang Menguntungkan dan Merugikan

Jamur Yang Merugikan
1.      Phytium sp
a.       Ciri-ciri
-    Hidup saprofit di tanah lembab.
-    Struktur tubuh jamur Phytium Ini terdiri dari golongan Ascomycotina, golongan ini struktur tubuhnya ada yang multiseluler atau uniseluler.
-    Tubuhnya terdiri atas benang-benang yang bersekat atau ada yang unisel.
-    Berukuran kecil, berfilamen yang kekurangan klorofil.
-    Oospora memiliki diameter 17 – 19 mikrometer, hifa tidak bersekat dan umumnya memiliki lebar 4 – 6 mikrometer. Sporangia panjangnya bervariasi dari 50 – 1000 um dan umumnya memiliki cabang banyak (multi).
-    Jamur Phytium Spp. mempunyai miselium kasar, lebarnya kadang-kadang sampai 7 mikrometer.
b.      Kerugian
Menyebabkan penyakik pada pembibitan dan Damping off atau rebah semai.

2.            Phytophthora Infestan
a.       Ciri-ciri
-    miselliumnya yang tidak bersekat – sekat. Warna misellium putih, jika tua mungkin agak coklat kekuning – kuningan; kebanyakan sporangium berwarna kehitam – hitaman.
-    Hifanya berkembang sempurna.
-    Phytopthora memiliki sporangium yang berbentuk bulat telur. Phytophthora infestans memproduksi spora aseksual yang disebut sporangia.
-    Hialin berbentuk seperti jeruk nipis, panjang 20-40.
b.      Kerugian
Jamur Phytophthora infestan menyebabkan penyakit busuk daun.

3.      Fusarium oxyporum
a.       Ciri-ciri
-    Fusarium oxyporum termasuk ke dalam Golongan Fusarium dicirikan dengan struktur tubuh berupa miselium bercabang, hialin, dan bersekat (septat) dengan diameter 2-4 µm.
-     struktur fialid yang berupa monofialid ataupun polifialid dan berbentuk soliter ataupun merupakan bagian dari sistem percabangan yang kompleks.
-    Reproduksi aseksual menggunakan mikrokonidia yang terletak pada konidiospora yang tidak bercabang dan makrokonidia yang terletak pada konidiospora bercabang dan tak bercabang
-    Miselium bersekat dan membentuk percabangan.
-     Daur hidup Fusarium oxysporum mengalami fase patogenesis dan saprogenesis.
b.      Kerugian
Jamur Fusarium oxyporum menyebabkan penyakit garis kuning pada daun.

4.      Pucinia polysora U.
a.       Ciri-ciri
-    mempunyai uredospora berwarna kekuningan sampai keemasan, berbentuk elip, berukuran 20-29 x 29-40 μm.
-    Tebal dinding spora 1-1,5 μm dengan 4-5 lubang.
-    Teliospora berwarna coklat, halus, elip, kedua ujungnya membulat, ukuran 18-27 x 29-41 μm, mudah lepas, dua sel, timbul pada tangkai pendek ukuran 10-30 μm. Aeciosporanya belum diketahui (Wakman dkk, 1998).
-    Suhu optimum 27-280 C. Pada suhu ini uredium.
b.      Kerugian
Pucinia polysora U menyebabkan Karat jagung disebabkan oleh tiga spesies dari dua negara yaitu Puccinia sorghi Scw, P.polysora Underw dan Physopella zeae (Mains) Cunmins dan Ramachar (Syn. Angiospora zeae Mains).

5.      Phakopsora pachyrhizi Syd.
a.       Ciri-ciri
-    Mempunyai  uredium pada sisi bawah dan atas daun coklat muda sampai coklat, bergaris tengah 100-200 μm, sering kali tersebar merata memenuhi permukaan daun.
-    Parafisa pangkalnya bersatu, membentuk penutup yang mirip dengan kubah di atas uredium. Parafisa membengkok, berbentuk gada atau mempunyai ujung membengkak, hialin atau berwarna jerami dengan ruang sel sempit. Ujungnya berukuran 7,5-1,5 μm, dengan panjang 20-47 μm.
b.      Kerugian
Phakopsora pachyrhizi Syd. Menyebabkan Penyakit karat pada tanaman kedelai umumnya belum tua, dan bisa menyebakan hampanya polong. Pada serangan yang berat, daun-daunnya rontok. Apabila tanaman yang terserang ini disentuh, sporanya akan beterbangan, kemudian akhirnya hinggap menyerang tanaman yang masih sehat. Di samping karena sentuhan, spora tersebut bisa terbawa oleh angin.


Jamur Yang Menguntungkan
1.      Jamur kuping (Auricularia auricula)
a.       Ciri-ciri
-    Mempunyai tubuh buah yang ber tekstur jelly yang unik.
-    Bagian tubuh buah dari jamur kuping berbentuk seperti mangkuk atau kadang dengan cuping
-    Warna tubuh buah jamur ini pada umumnya hitam atau coklat kehitaman akan tetapi adapula yang memiliki warna coklat tua seperti kuping, memiliki diameter 2-15 cm, tipis berdaging, dan kenyal.
-    makroskopis atau mudah dilihat dengan mata telanjang.
-     Miseliumnya bersekat.
-    Cara reproduksi vegetatif dari jamur kuping adalah dengan membentuk tunas, dengan konidia, dan fragmentasi miselium. Sedangkan, reproduksi generatif jamur kuping adalah dengan menggunakan alat yang disebut basidium.
b.      Manfaat
Jamur kuping  dapat dijadikan bahan makanan bagi manusia selain itu Jamur kuping memiliki banyak manfaat kesehatan, di antaranya :
-          untuk mengurangi penyakit panas dalam dan rasa sakit pada kulit akibat luka bakar.
-          Bila jamur kuping dipanaskan maka lendir yang dihasilkannya memiliki khasiat sebagai penangkal (menonaktifkan) zat-zat racun yang terbawa dalam makanan, baik dalam bentuk racun nabati, racun residu pestisida, maupun racun berbentuk logam berat.
-           Kandungan senyawa yang terdapat dalam lendir jamur kuping juga efektif untuk menghambat pertumbuhan karsinoma dan sarkoma (sel kanker) hingga 80-90%
-          Sebagai  zat anti koagulan (mencegah dan menghambat proses penggumpalan darah
-           untuk mengatasi penyakit darah tinggi (hipertensi).
-          Mengatasi kekurangan darah (anemia).
-          mengobati penyakit wasir (ambeien).
-          dan memperlancar proses buang air besar.

2.      Trichoderma sp.
a.       Ciri-ciri
-    mempunyai konidiafor bercabang-cabang tidak teratur, tidak memebentuk berkas (sapu).
-    konidium (fialospora) jorong, bersel satu dalam kelompok-kelompok terminal, kelompok konidium berwarna hijau biru.
-    Pada umumnya yang mempunyai daya antagonistic terhadap jamurjamur parasit.
-    Koloninya berwarna hijau muda sampai hijau tua. Koloni Trichoderma yang masih muda berwarna putih, kemudian menjadi hijau muda atau hijau tua. Warna tergantung dari species dan umur koloni.
-    memproduksi konidia aseksual berbentuk globus dengan konidia tersusun seperti buah anggur dan pertumbuhannya cepat.
-    Hifa tumbuh menjalar dan berseptum.
-    Konidiofornya banyak dan bercabang tetapi tidak secara melingkar. Cabang konidiofor pendek dan letaknya berlawanan, dengan segmen pucuknya membentuk kelompok konidia.
-    Umumnya konidia hialin atau berwarna hijau berbentuk bulat atau lonjong dengan permukaan halus sampai kasar.

b.      Manfaat
Walaupun jamur Trichoderma sp merupakan salah satu jenis jamur mikoparasit, artinya bersifat parasitik terhadap jenis jamur lain namun Trichoderma  sp mempunyai kemampuan untuk mengkolonisasi rhizosfer dengan cepat dan melindungi akar dari serangan jamur penyakit, mempercepat pertumbuhan tanaman dan meningkatkan hasil produksi tanaman.

3.         Penicillin sp
a.       Ciri –ciri
-  Hidup secara saprofit di berbagai tempat, terutama pada substrat yangmengandung gula (seperti nasi, roti, dan buah yang telah ranum).
-    Konidiofor nya berbentuk seperti sikat/kuas
-    berkembang biak secara vegetatif dengan membentuk konidia. Konidia dibentuk pada ujung hifa.
-    reproduksi generatif dengan membentuk askus, namun reproduksi secarageneratif sulit ditemukan
-    Hifa pembawa konidia disebut konidiofor.Sehingga setiap konidia dapat dapat tumbuh membentuk jamur baru.
-    reproduksi generatif dengan membentuk askus, namun reproduksi secarageneratif sulit ditemukan.

b.      Manfaat
-          di bidang industry penicillum bermanfaat untuk untuk memproduksi keju ( Penicillium camemberti dan Penicillium roqueforti),. mengharumkan keju, yaitu dengan cara menurunkan kadar kasein pada bahan keju.
-          Untuk pengawetan jus buah (Penicillium chryzogenum) Penicillium Chrysogenum
-          Untuk produksi antibiotik yang dikenal dengan penisilin (Penicillium chryzogenum)
-       Efektif untuk memberantas terutama bakteri gram positif yang berbentuk kokus, misalnya melawan infeksi yang disebabkan oleh Staphylococcus.

4.      Saccharaomyces cerevisiae
a.       Ciri-ciri
-  Mikro strukturnya terdiri dari kapsul, dinding sel, membrane sitoplasma,nulleus, vakoula, mitokondria, globula dan sitoplasma. pada sel-sel yang muda sangat tipis, namun semakin lama semakin menebal seiring dengan waktu.
-          Pada dinding sel terdapat struktur yang disebut bekas lahir (bekas yang timbul dari pembentukan oleh sel induk) dan bekas tunas (bekas yang timbul akibat pembentukan anak sel). Setiap sel hanya dapat memiliki satu bekas lahir, namun bisa membentuk banyak bekas tunas. Saccharomyces cerevisiae dapat membentuk 9 sampai 43 tunas dengan rata-rata 24 tunas per sel, dan paling banyak lahir pada kedua ujung sel yang memanjang.
-           Globula Lipid Saccharomyces cerevisiae mengandung lipid dalam jumlah sangat sedikit. Lipid ini disimpan dalam bentuk globula yang dapat dilihat dengan mikroskop setelah diberi pewarna lemak seperti Hitam Sudan atau Merah Sudan.
-          Spora berbentuk bulat atau oval dengan permukaan halus.
b.      Manfaat
Saccharomyces cerevisiae berfungsi dalam pembuatan roti dan bir, karena Saccharomyces bersifat fermentatif (melakukan fermentasi, yaitu memcah glukosa menjadi karbon dioksida dan alkohol) kuat.

5.      Mikoriza vesikular-arbuskular

a.       Ciri-ciri
-          MVA merupakan salah satu kelompok endomikoriza dari familia Endogonaceae, yang memiliki ciri khusus yaitu adanya vesikula dan arbuskula.
-          Vesikula berupa badan berbentuk bulat, oval atau tidak beraturan, yang terbentuk dari penggelembungan ujung hifa terminal di dalam atau di antara sel-sel korteks, berfungsi sebagai alat penyimpan cadangan makanan yang kemudian ditransfer ke inangnya dengan cara dicerna.
-          Arbuskula adalah struktur seperti haustoria, merupakan struktur yang esensial pada semua asosiasi jamur MVA, berperan dalam transfer zat hara dua arah antara jamur yang menginfeksi dengan inangnya
b.      Manfaat
-          memperbaiki hasil tumbuhan dan mengurangi masukan pupuk pada tanaman pertanian. Dengan cara meningkatan penyerapan fosfat diiringi dengan peningkatan penyerapan hara lain, seperti nitrogen (N), seng (Zn), tembaga (Cu), dan belerang (S).
-   MVA memperluas ruang tanah yang dapat dijangkau oleh tanaman inang. Inokulasi ini dapat mengarah pada menurunnya penggunaan pupuk P.
-         Meningkatkan ketersediaan hara
-          Meningkatkan toleransi tumbuhan terhadap kurangnya pasokan air.
-   MVA memengaruhi ketahanan tumbuhan inang terhadap serangan penyakit. MVA, tergantung jenisnya, dapat mengurangi pengaruh serangan jamur patogen. Demikian pula, juga dapat mengurangi serangan nematoda. Sebaliknya, tumbuhan yang terinfeksi MVA menurun ketahanannya terhadap serangan virus.
-          Memperbaiki struktur agregasi tanah.